Angka penyebaran covid-19 di Indonesia masih tergolong tinggi, hal tersebut membuat beberapa orang yang terpapar harus melakukan isoman di rumah mereka masing-masing.

Mereka yang melakukan isoman biasnaya adalah orang yang tidak memiliki gejala atau hanya gejala ringan, hingga saat ini rumah sakit sendiri masih kewalahan untuk memberikan ruangan bagi mereka yang terkena dampak serius dari infeksi covid-19 ini.

Jangka waktu untuk melakukan isoman biasanya adalah 10 hari bagi mereka yang tidak memiliki gejala dan 13 hari ditambah untuk mereka yang bergejala ringan.

Kalau kalian masih bingung tentang aturan isoman, dosen Fakultas Kedokteran UNAIR yaitu dr. Aried Bakhtiar, SpP mengatakan setidaknya terdapat 4 point pedoman isoman yang harus diketahui.

Point pertama yang harus diketahui adalah evaluasi rutin. Evaluasi bagi pasien isoman sangatlah penting.

Ini bisa dilakukan dengan memeriksa suhu tubuh dan mengukur saturasi oksigen pasien. “Jika dalam dua hingga tiga hari ke depan gejalanya memburuk, jangan lanjutkan isolasi mandiri. Segera pergi ke rumah sakit (mencari bantuan medis),” ungkap Arief

Point kedua adalah memperhatikan fasilitas yang dibutuhkan selama menjalankan isoman di rumah masing-masing.

Arief juga mengingatkan pentingnya rumah atau ruang isolasi pasien Covid-19 dalam kondisi yang baik. Setidaknya, ruang isolasi harus terpisah dari anggota keluarga keluarga lainnya.

Lebih baik lagi jika ada kamar mandi terpisah yang bisa digunakan. “Lebih baik jika ada dua kamar mandi sehingga salah satunya bisa digunakan oleh pasien,” ujarnya.

Selain itu, penting agar ruang isolasi memiliki ventilasi yang baik, seperti jendela. Penggunaan pendingin ruangan dalam ruang tertutup akan meningkatkan konsentrasi virus di udara.

Point ketiga adalah tetap menerapkan protokol kesehatan walaupun di rumah, Semua anggota keluarga di rumah wajib menerapkan protokol kesehatan ketat selama periode isoman, termasuk menggunakan masker sepanjang waktu.

Selain masker, dianjurkan melakukan disinfeksi di tempat-tempat yang sering disentih, seperti gagang pintu, pagar, dan meja.

Makanan untuk pasien isoman harus diantarkan dan dianjurkan menggunakan alat makan sekali pakai.

Jika pasiennya orang tua, pasien tersebut memerlukan bantuan dari orang lain untuk merawatnya. Jika diperlukan pengasuh atau perawat, pastikan orang tersebut benar-benar sehat.

“Karena perawat tersebut pasti akan melakukan kontak erat, jadi dia juga harus menjalani isolasi,” kata Arief.

Hal terakhir yang harus diketahui adalah memiliki kontak tenaga medis dan menghubunginya, sebelum menjalani isoman, pastikan pasien atau keluarga pasien menghubungi tenaga medis.

Hal ini penting dilakukan agar jika kondisi pasien suatu waktu memburuk, pasien dapat mengonsultasikan kondisinya dengan tenaga medis.

Di sisi lain, Arief mengatakan isoman bukan berarti harus membuat pasien terisolasi total. Pasien masih bisa melakukan tatap muka dengan anggota keluarga, namun dengan jarak minimal dua meter.

Terakhir, ketahui kondisi diri kita masing-masing. Jika kondisi memburuk dan memerlukan bantuan, pastikan tidak memaksakan diri.

“Jangan memaksakan diri untuk melakukan isoman. Jika memang mengalami perburukan, kita tetap harus pergi ke rumah sakit atau setidaknya meminta bantuan dari tenaga medis,” ujarnya.

Kiriman serupa